KebenaranBukan Hanya Milik Allah! Banyak di antara kita sering berdebat tentang kebenaran. Perdebatan yang terkadang sering tidak mendapatkan titik temu. Masing masing pihak cenderung menganggap kebenaran yang diklaim sebagai kebenaran menurut versi dia adalah kebenaran yang hakiki. Tentu saja hal ini akan membuat perdebatan mengenai kebenaran Makatentunya hanya Allah sajalah yang tahu bagaimana manusia seharusnya hidup, untuk apa dia hidup, serta apa tujuan dia hidup. Semua itu telah diatur oleh Allah, manusia hanya cukup bersandar serta mentaatinya saja. Akhi dan ukhti sekalian, sekali lagi saya katakan, inilah sebuah konsep kebenaran yang hakiki. Kemuliaanitu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya. (QS al-Munafiqun [63]: 8). Akan tetapi, kemuliaan tersebut merupakan pancaran dan anugerah dari Allah.[5] Inilah secara umum tafsir surat an-Nisa' (4) ayat 138-139 di atas. TakAda Kebenaran Yang Hakiki Kecuali Milik ALLAH SWT Minggu, 13 Desember 2015. Maka demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya Kemuliaanitu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya. ( QS al-Munafiqun [63]: 8 ). Akan tetapi, kemuliaan tersebut merupakan pancaran dan anugerah dari Allah. [5] Inilah secara umum tafsir surat an-Nisa' (4) ayat 138-139 di atas. sebuah sepeda motor bergerak dengan kecepatan sebesar 72 km jam. Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai para pencintaku, para penggemar ilmu yang selalu mempelajari aku, membacaku, membuka lembaran demi lembaranku setiap harinya.. janganlah pernah berhenti mempelajariku…… kenali aku…… pahami aku….” “Janganlah pernah merasa puas atas nilai kebenaran yang kalian peroleh melalui aku saat ini,.. karena sesungguhnya nilai kebenaran yang kalian peroleh, belumlah menggapai kebenaran yang Hakiki, jauh penggemarku…… masih sangat jauh. Bukankan kebenaran yang Hakiki hanya milik ALLAH semata?” “Mohon maaf para penggemarku, aku hanya mampu mengarahkan dan mendekatkan kalian kepada kebenaran yang Hakiki, tapi aku tak mampu membuat kalian untuk meraihnya secara utuh” “Walaupun seluruh pepohonan di muka bumi ini di jadikan pena dan tujuh lautan dijadikan sebagai tinta, bahkan bila ditambahkan sebanyak itu pula… Tak akan penah habis hikmah ilmu dan khazanah yang terkandung di dalamku tuk kalian raih kepahamannya..” “Sekali lagi penggemarku, kebenaran Hakiki hanyalah milik ALLAH dan tak satupun makhluk yang mampu menggapainya secara utuh. Untuk itu janganlah kalian merasa paling pintar.. paling benar… mudah menyalahkan pendapat orang lain, dengan dalil ayat-ayat yang terkandung di dalamku… jangan sekali-kali pencintaku… Karena bila itu terjadi… maka kalian akan terpecah belah menjadi banyak golongan dan kalian akan saling bermusuhan.. saling bertikai bahkan saling menghabisi satu sama lainnya. Bukankah itu yang terjadi saat ini..?” “Wahai penggemarku… keberadaanku, bukanlah untuk menjadi mudarat bagi alam semesta ini. Sadarilah wahai penggemarku, perbedaan yang terjadi diantara kalian dalam memahamiku adalah merupakan bukti nyata.. betapa terbatasnya kemampuan kalian tuk memahamiku. Bila untuk memahamiku saja kalian tak mampu, bagaimana mungkin kalian akan mampu menggapai segala ke “Maha” an NYA ???” “Keberadaanku adalah sebagai penebar keselamatan di alam semesta ini.. pembawa rahmat bagi sekalian alam.. bukan penebar ketidak nyamanan.. bukan pencipta kegelisahan.. bukan pemecah belah di antara kalian.. bukaan.. sama sekali bukaan..!! Bagaimana mungkin tuk hal yang sangat sederhana ini saja, kalian tak mampu memahaminya..? Apakah yang ada di benak kalian.. sehingga walaupun kalian sudah mempelajariku, namun… kalian acapkali bertindak bertentangan dengan peruntukkanku di alam semesta ini..?” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai manusia yang teramat sangat kucintai.. sebenarnya.. cukuplah kalian ikuti saja bimbinganku, arahanku, untuk mengenali diri kalian sendiri lebih mendalam, tentang keberadaan kalian, tentang peruntukan kalian diciptakan.. serta tentang beban amanah apa yang kalian emban dan wajib jalankan, sebelum hayat berakhir meninggalkan dunia ini. Dan bila kalian isqamah mengikuti bimbinganku tuk memahami dan mengenali tentang diri kalian sendiri.. niscaya kelak kalian akan lebih memahami dan mengenali akan Tuhan kalian yang sebenarnya.. ALLAH SWT, Pencipta kalian semua” “Ooooh… penggemarku … kalian terlalu muluk … sangat terlalu muluk bila kalian telah merasa mendapatkan kebenaran yang Hakiki, dan kalian memutuskan untuk berhenti mempelajariku.. memahamiku…” “Jangan lakukan itu penggemarku, jangan lakukan… pelajari aku terus, kenali aku terus… pahami aku terus…. amalkanlah segala yang telah kalian pahami.. Karena bila kalian berhenti mempelajariku dan telah merasa mendapatkan kebenaran yang Hakiki, aku khawatir kalian akan menjadi takabur.. arogan.. sombong. Aku sangat yakin, seyakin-yakinnya itulah kesesatan yang teramat besar !!! layaknya syaitan yang sombong dan terkutuk selamanya dan akan menjadi penghuni abadi di neraka jahanam” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai manusia.. bersyukurlah atas ke Islaman kalian yang sudah terbawa sejak lahir.. karena apabila kalian istiqamah dalam menjalankan shalat.. paling tidak sebanyak 9 kali dalam sehari di waktu-waktu shalat, kalian bersyahadat.. menyatakan kesaksian bahwa tiada tuhan selain ALLAH dan Rasulullah Muhammad saw sebagai utusan yang membawa risalah yang terkandung di diriku..” “Namun.. realitanya bagaimana dengan wujud nyata atas kesaksian kalian tersebut..? apakah kesaksian kalian sudah terwujud kedalam sikap.. untuk membacaku dan mempelajari aku sebagai kumpulan firmanNYA yang mampu menghantarkan kalian kepada petunjuk yang benar dalam menggapai ridhaNYA ? Apakah kesaksian kalian atas Rasulullah Muhammad saw, sudah terwujud kedalam sikap.. untuk membacaku dan mempelajari aku sebagai risalah yang beliau sampaikan kepada kalian agar terselamatkan di dunia maupun akhirat ? Yaa.. dengan mempelajari aku.. memahami aku.. adalah sebuah cara yang tepat dalam memperbaiki kualitas ke Islaman dan syahadat kalian semua” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai manusia.. dalam sehari.. paling tidak 17 kali dalam shalat kalian membaca bagian dariku yaitu surat “Al Faatihah” dan berdoa meminta ditunjuki kepada jalan yang lurus. Tidakkah kalian sadar, bahwa jalan yang lurus sebenarnya sudah ALLAH sediakan melalui aku.. kumpulan dari segala petunjukNYA, yang tidak ada keraguan di dalamnya bagi orang-orang yang bertaqwa..?? Lantas mengapa engkau masih saja belum tergerak atau enggan mencari petunjuk yang telah disediakan di dalam diriku ?” Yaa.. memang salah satu namaku adalah Al Hudaa, petunjuk atas segala problematika yang ada di alam semesta ini bahkan tuk pencapaian kebaikan akhirat sekalipun ada di dalam diriku, dan itu semuanya DIA sediakan dan peruntukkan bagi kalian semua. Sadarilah itu.. Wujudkanlah permintaan dan doa kalian dalam shalat itu dengan membaca aku, mempelajari aku, memahami aku, demi meraih petunjuk jalan yang lurus atas segala hal dan masalah yang kalian hadapi” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai… sebagian manusia yang belum muncul kecintaannya padaku… seandainya kalian Islam.. mengapa kalian belum juga menyentuh diriku.. membuka lembaran demi lembaran diriku.. bencikah kalian pada ku..? Tidak rindukah kalian kepadaku, sang kitab termulia yang pernah ada di sepanjang zaman ? “Berapa saat kah dalam keseharian kalian teringat akan aku.. terbersit tentang keutamaanku.. pernahkah kalian sempatkan sedikit waktu saja tuk menyentuhku.. melihatku.. membacaku ? Ketahuilah.. aku sangat merindukan kalian.. teramat sangat rindu..” “Ketika aku akan diturunkan kemuka bumi ini, betapa ALLAH telah mempersiapkan segala kondisi yang terbaik untukku.. IA pilihkan waktu terbaik diantara seluruh waktu yang pernah ada tuk menurunkanku.. Lailatul Qadr..” “IA pilihkan panglima malaikat tertinggi tuk membawa aku ke permukaan bumi ini.. Jibril yang perkasa..” “IA pilihkan sosok manusia terbaik sepanjang masa tuk menerima kehadiran ku.. baginda Rasulullah Muhammad saw.. yang dengan segala pengorbanan harta, jiwa dan raga serta waktu dalam hidupnya, ia persembahkan demi sampainya aku kepada kalian semua.. begitu pula dengan para sahabatnya yang begitu setia, mulia dan total dalam memperjuangkan keberadaanku agar sampai kepada era kalian saat ini” “Entah sudah berapa banyak nyawa para pejuang Islam yang sudah mengorbankan dan merelakan jiwanya demi memperjuangkan syiar akan keberadaanku, sehingga sampailah aku kepada masa kalian saat ini..” “Dengan segala keutamaan pristiwa diturunkannya aku ke muka bumi ini dan perjalanan sejarah yang luar biasa itu.. Lantas mengapa dengan mudah dan ringannya kalian tak pedulikan aku..? memandang sebelah mata padaku..?” Seandainya kalian tau, bagaimana kelak aku akan dapat menerangi dan melapangkan makam kalian.. membela kalian di hari perhitungan kelak.. tentu kalian akan menghampiriku waktu demi waktu.. membawaku kemana kalian pergi.. Tapiiii.. bagaimana aku akan mampu melakukan semua itu.. tanpa munculnya kecintaan kalian pada ku..??” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai manusia.. teramat sangat banyak sebenarnya yang ingin ku sampaikan kepada kalian semua, seandainya aku diberikan kemampuan bicara layaknya kalian.. yang dapat didengar dengan jelas ditelinga.. tentunya aku tak akan pernah bosan tuk menasehati.. mengingatkan.. dan membimbing kalian semua, sepanjang hari tanpa henti.. demi menuju kepada keridhaanNYA” “Aaah sudahlah… nyatanya.. sampai dengan saat ini…. aku tidak diberikan kemampuan untuk berkata-kata seperti layaknya kalian.. yang setiap waktu bisa didengarkan ditelinga manusia… ini hanyalah sebuah kemungkinan.. seandainya…. seandainya saja aku Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya kalian wahai manusia…” PENULIS Aku yang tersesat dan merindukan suara Al Quran tuk membimbingku JANGAN KLIK DISINI In the development of science, some philosophers view of the truth only limit on logic or rational human being, but there is a larger space than the concentration of human logic, sometimes too freely in determining the truth. It is no good if the logic of science is not based on the values that must be adhered to, especially the spiritual. the author tries to review the position in the development of spiritual values to achieve a philosophical truth, using the Conceptual Approach. To sort out whether it is the content of knowledge, must originate in the theories of knowledge truth. Thinking is a human activity to find the truth. Order thinking discussed in a rational approach, using a specific sense to study the broadest philosophical. In this concept, the value could be in the position before thinking, in the sense of thinking as a foothold, could also be in a position after the thought, in the sense of thinking that will be used in any function. In the position before thinking, then the value will be conceptualized as the base method to be used for philosophizing is true. This is under the directive on religious truth. In the realm of religious truth, the principles that are perceived as spiritual. As being a seeker of truth, man can seek and find the truth through religion. Not only boxed in on the study, which is a particular religion, but appears to be a universal truth. A. Pendahuluan Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani "philosophia" dari kata "philos" artinya cinta dan "Sophia" artinya pengetahuan yang bijaksana. Manakala seandainya jika disepakati dengan suatu konsep bahwa filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan. 1 Perkembangan Filsafat dalam konteks ilmu pengetahun tidak terlepas dari berbagai pendapat yang mengkonsepkan bagian-bagian dalam kajiannya. Filsafat dikatakan sebagai mother of science-induk dari segala ilmu pengetahuan. Dalam perkembangannya melahirkan cabang-cabang ilmu, yang berkembang menjadi ranting-ranting ilmu, sub-ranting ilmu. Salah satu bagian terpentingnya bisa disebut dengan filsafat ilmu. Letak filsafat ilmu dalam perkembangannya juga tercatat sebagai awal mula perkembangan filsafat kearah logika dalam rangka mencari kebenaran. Kemudian dalam perkembangannya lagi ilmu menjadi semakin spesifik dan teknis yang bergerak sendiri-sendiri yang tidak saling menyapa. Dalam 1 Abdul Munir Mulkan, Paradigma Intelektual Muslim, Yogyakarta Sipress, 1993, Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free NILAI DALAM KEBENARAN YANG HAKIKI Pengembangan Ilmu Berbasis Nilai Spiritual Sinung Mufti Hangabei Universitas Muhammadiyah Bengkulu sinungmufti Abstract In the development of science, some philosophers view of the truth only limit on logic or rational human being, but there is a larger space than the concentration of human logic, sometimes too freely in determining the truth. It is no good if the logic of science is not based on the values that must be adhered to, especially the spiritual. the author tries to review the position in the development of spiritual values to achieve a philosophical truth, using the Conceptual Approach. To sort out whether it is the content of knowledge, must originate in the theories of knowledge truth. Thinking is a human activity to find the truth. Order thinking discussed in a rational approach, using a specific sense to study the broadest philosophical. In this concept, the value could be in the position before thinking, in the sense of thinking as a foothold, could also be in a position after the thought, in the sense of thinking that will be used in any function. In the position before thinking, then the value will be conceptualized as the base method to be used for philosophizing is true. This is under the directive on religious truth. In the realm of religious truth, the principles that are perceived as spiritual. As being a seeker of truth, man can seek and find the truth through religion. Not only boxed in on the study, which is a particular religion, but appears to be a universal truth. Keywords Value, Truth, Spiritual. A. Pendahuluan Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani “philosophia” dari kata “philos” artinya cinta dan “Sophia” artinya pengetahuan yang bijaksana. Manakala seandainya jika disepakati dengan suatu konsep bahwa filsafat adalah induk dari segala ilmu Filsafat dalam konteks ilmu pengetahun tidak terlepas dari berbagai pendapat yang mengkonsepkan bagian-bagian dalam kajiannya. Filsafat dikatakan sebagai mother of science - induk dari segala ilmu pengetahuan. Dalam perkembangannya melahirkan cabang-cabang ilmu, yang berkembang menjadi ranting-ranting ilmu, sub-ranting ilmu. Salah satu bagian terpentingnya bisa disebut dengan filsafat ilmu. Letak filsafat ilmu dalam perkembangannya juga tercatat sebagai awal mula perkembangan filsafat kearah logika dalam rangka mencari kebenaran. Kemudian dalam perkembangannya lagi ilmu menjadi semakin spesifik dan teknis yang bergerak sendiri-sendiri yang tidak saling menyapa. Dalam Abdul Munir Mulkan, Paradigma Intelektual Muslim, Yogyakarta Sipress, 1993, 2 perkembangannya banyak sekali permasalahan mendasar muncul yang menyebabkan ilmu semakin jauh dari hakekatnya. Kaelan dalam tulisannya menjelaskan filsafat mempunyai dua pengertian Pertama filsafat sebagai produk mengandung arti filsafat sebagai jenis ilmu pengetahuan, konsep-konsep, teori, sistem aliran yang nerupakan hasil proses berfilsafat. Kedua filsafat sebagai suatu proses dalam hal ini filsafat diartikan sebagai bentuk aktivitas berfilsafat sebagai proses pemecahan masalah dengan menggunakan cara dan metode dasarnya filsafat dapat dibagi menjadi tiga garis besar yaitu teori pengetahuan epistemologi, teori hakikat ontology, dan teori nilai aksiologi. Menurut beberapa ahli ketiga bidang filsafat tersebut secara terperinci dapat dibagi lagi berdasarkan pembahasannya yaitu 1. Bidang ontology mempermasalahkan a. Apakah hakikat yang ada being, sein b. Apakah yang ada itu sesuatu yang tetap, abadi atau terus menerus berubah c. Apakah yang ada itu sesuatu yang abstrakuniversal atau yang konkrit individual. 2. Bidang epistemoligi mempermasalahkan a. Apakah sarananya dan bagaimana caranya untuk mempergunakan sarana itu guna mencapai pengetahuan, kebenaran atau kenyataan akal, akal budi, atau kombinasinya. b. Apakah tolak ukur bagi sesuatu yang dinyatakan sebagai yang benar dan yang nyata yang terus menerus dicari oleh ilmu pengatahuan. 3. Bidang aksiologi mempermasalahkan a. Nilai dan norma b. Apa makna dan tujuan hidup ini dan nilai-nilai mana yang secara imperatif harus dipenuhi. Membuat jarak antara ilmu keagamaan dan ilmu sekuler akan menyeret kewilayah pembenaran dikotomisme ilmu pengetahuan yang sesungguhnya tidak ada dalam kamus Islam. Krisis masyarakat barat yang dianggap sebagai kegagalan peradaban modern karena pemikiran modern telah memisahkan spiritualisme dengan segala aspeknya dalam satu kesatuan kehidupan dan pembangunan peradaban Encyclopedia of Philosophy, pengetahuan didefinisikan sebagai kepercayaan yang benar knowledge is justified true belief. Pengetahuan itu harus benar, kalau tidak benar maka bukan pengetahuan tetapi kekeliruan atau kontradiksi. Pengetahuan merupakan hasil suatu proses atau pengalaman yang sadar. Kaelan, Pancasila Yuridis Kenegaraan, Liberty, Yogyakarta, 1987, hlm. 6-7 Absori, Materi Kuliah Filsafat Ilmu, Program Doktor Ilmu Hukum Univeritas Muhammadiyah Suarakarta, 2016 Slamet Ibrahim, Pengetahuan Dasar Tentang Filsafat Ilmu dan Pengetahuan, Institut Teknik Bandung, Bandung, 2008 3 Pengetahuan knowledge merupakan terminology generic yang mencakup seluruh hal yang diketahui manusia. Dengan demikian pengetahuan adalah kemampuan manusia seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pengamatan, dan intuisi yang mampu menangkap alam dan kehidupannya serta mengabstraksikannya untuk mencapai suatu tujuan. Dalam pengembangan ilmu, beberapa pandangan filusuf tentang kebenaran hanya membataskan pada logika/rasional manusia, padahal ada ruang yang lebih besar dibandingkan pemusatan logika manusia yang terkadang terlampau bebas dalam menentukan kebenaran. Tidaklah menjadi baik, apabila logika keilmuan tidak didasarkan pada nilai-nilai yang harus dipatuhi, terutama nilai yang bersifat spiritual. Apakah manusia dengan penalaran tinggi lalu makin berbudi atau sebaliknya makin cerdas maka makin pandai pula berdusta. Oleh karena itu perlu ditetapkan pola pikir yang tepat menuju kebenaran yang hakiki. Berdasarkan uraian latar belakang diatas penulis mencoba mengkaji kedudukan nilai spiritual dalam pengembangan ilmu guna mencapai kebenaran yang hakiki. B. Metode Penelitian Metodologi penelitian merupakan ilmu yang mempelajari tentang metoda-metoda penelitian, ilmu tentang alat-alat dalam penelitian. Di lingkungan filsafat, logika dikenal sebagai ilmu tentang alat untuk mencari kebenaran. Bila ditata dalam sistematika, metodologi penelitian merupakan bagian dari penulisan makalah ini, penulis mencoba mengkaji pengembangan ilmu berbasis nilai spiritual dalam rangka mencapai kebenaran hakiki dengan mengunakan Pendekatan Konseptual. Subjek penelitian singkat dalam paper ini adalah mengenai konsep-konsep pemikiran dalam filsafat ilmu terutama yang concern terhadap orientasi kebenaran yang bersifat spiritual. Data atau bahan yang dikaji adalah data kepustakaan. Agar dapat memberikan interpretasi tepat mengenai pemikiran ahli atau tokoh tersebut, maka konsep-konsep pemikiran dalam filsafat ilmu tersebut dikaji menurut keselarasannya satu sama lain. Selanjutnya ditetaptkan pemikiran yang mendasar guna mencari konsep yang tepat guna menjawab permasalahan yang dikaji dalam makalah atau paper ini. C. Hasil dan Pembahasan Banyak ilmuwan yang sepakat, bahwa ilmu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan pangkal tumpuan objek tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/logis, empiris, umum, dan akumulatif. Pengertian pengetahuan sebagai istilah filsafat tidaklah sederhana karena bermacam-macam pandangan dan teori epistimologi, diantaranya pandangan Aristoteles, bahwa pengetahuan merupakan pengetahuan yang dapat diinderai dan dapat merangsang budi. Menurut Decartes ilmu pengetahuan merupakan Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif Pendekatan Positivistik, Rasionalistik, Phenomenologik, dan Realisme Metaphisik Telaah Studi Teks dan Penelitian Agama Edisi III, Rake Sarasin, Yogyakarta, 1996, Hlm. 4 4 serba budi; oleh Bacon dan David Home diartikan sebagai pengalaman indera batin; menurut Immanuel Kant pengetahuanmerupakan persatuan antara budi dan pengalaman. Dan teori Phyroo mengatakan, bahwa tidak ada kepastian dalam pengetahuan. Dari berbagai macam pandangan tentang pengetahuan diperoleh sumber-sumber pengetahuan berupa ide, kenyataan, kegiatan akal-budi, pengalaman, sintesis budi, atau meragukan karena tidak adanya sarana untuk mencapai pengetahuan yang Ilmiah atau Ilmu Science pada dasarnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan sehari-hari yang dilanjutkan dengan suatu pemikiran cermat dan seksama dengan menggunakan berbagai metode. Untuk membuktikan apakah isi pengetahuan itu benar, perlu berpangkal pada teori-teori kebenaran pengetahuan. Teori pertama bertitik tolak adanya hubungan dalil, di mana pengetahuan dianggap benar apabila dalil proposisi itu mempunyai hubungan dengan dalil proposisi yang terdahulu. Kedua, pengetahuan itu benar apabila ada kesesuaian dengan kenyataan. Teori ketiga menyatakan, bahwa pengetahuan itu benar apabila mempunyai konsekuensi praktis dalam diri yang mempunyai pengetahuan ilmu akan berhadapan dengan objek yang merupakan bahan dalam penelitian, meliputi objek material sebagai bahan yang menjadi tujuan penelitian bulat dan utuh, serta objek formal, yaitu sudut pandangan yang mengarah kepada persoalan yang menjadi pusat perhatian. Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan objektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah. Bukan membahas tujuan ilmu, melaikan mendukung dalam mencapai tujuan dari ilmu itu sendiri, sehingga benar-benar objektif, terlepas dari prasangka pribadi yang bersifat subjektif. Terlepas dari itu semua, dalam memahami dan menemukan kebenaran ilmu harus dikembangkan dalam koridor sipritual. Nilai yang dikonsepsikan berada pada dimensi transendetal harus ikut ambil bagaian dalam perwujudan kebenaran ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan. Menurut Suhirman Djirman untuk memahami hidup dan kehidupan peradaban manusia yang komplek ilmu pemikiran manusia perlu dikonstruksi ulang dengan pendekatan merupakan suatu aktifitas manusia untuk menemukan kebenaran. Perintah berfikir dijelaskan dalam pendekatan rasional, dengan menggunakan akal pikiran yang secara spesifik menjadi kajian filosofis dengan seluas-luasnya, jika dirujuk pada Al-Qur’an, secara etimologis, istilah aql, akal, dalam beragam bentuknya terulang sebanyak 49 semua kata yang terbentuk dari aql, dalam Al-Qur’an ditemukan dalam bentuk kata kerja. Ini artinya, Allah Ilmu Pengetahuan , Teknologi, dan Kemiskinan, Hlm. 187-188 Absori, Materi Kuliah Filsafat Ilmu, Program Doktor Ilmu Hukum Univeritas Muhammadiyah Suarakarta, 2016 Ali Audah, Konkordansi Quran, Mizan, Bandung, 1997, hlm. 644-645 dalam Zaprulkhan, Filsafat Ilmu Sebuah Pendekatan Tematik, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2012, hlm. 66 5 sangat mengutamakan akal pikiran pada hamba-hamba-Nya dan lebih dari itu, akal pikiran harus senantiasa digunakan secara aktif agar mernafaat dan tidak dilihat dari berbagai pendapat filusuf tentang kebenaran maka salah satu bagiannya adalah teori kebenaran agama. Dalam Teori Kebenaran Agama digunakan wahyu yang bersumber dari Tuhan. Sebagai makluk pencari kebenaran, manusia dapat mencari dan menemukan kebenaran melalui agama. Dengan demikian, sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. Agama dengan kitab suci dan haditsnya dapat memberikan jawaban atas segala persoalan manusia, termasuk kebenaran. Teori Korespondensi milik Plato, Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta, yang berselaras dengan realitas, yang serasi dengan situasi aktual. Dalam Teori Koherensi Socrates, sesuatu pernyataan dianggap benar, jika pernyataan itu dilaksanakan atas petimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya. Suatu teori dianggap benar apabila telah dibuktikan justifikasi benar dan tahan uji testable. Kalau teori ini bertentangan dengan data terbaru yang benar atau dengan teori lama yang benar, maka teori itu akan gugur atau batal dengan sendirinya. Dan terakhir ada Teori pragmatism the pragmatic theory of truth yang dikembangkan oleh John Dewey, yang menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan Ahmad Tafsir dalam kerangka berfikir ilmiah diuraikan sebagai berikuta. Yang logis ialah yang masuk akal b. Yang logis itu mencakup yang rasional dan supra-rasional c. Yang rasional ialah yang masuk akal dan sesuai dengan hukum alam d. Yang supra-rasional ialah yang masuk akal sekalipun tidak sesuai dengan hukum alam. e. Istilah logis boleh dipakai dalam pengertian rasional atau dalam pengertian supra rasional. Sebagaimana pendapat Noeng Muhadjir, eksistensi kebenaran dalam aliran filsafat yang satu berbeda dengan aliran filasafat lainnya. Positivisme hanya mengakui kebenaran yang dapat ditangkap secara langsung atau tak langsung lewat indra. Idealisme hanya mengakui kebenaran dunia ide, materi itu hanyalah bayangan dari dunia ide. Sedangkan Islam berangkat dari eksistensi kebenaran bersumber dari Allah Swt. Wahyu merupakan eksistensi kebenaran yang mutlak benar. Eksisitensi wahyu merupakan kebenaran mutlak, epistemologinya yang Zaprulkhan, Filsafat Ilmu Sebuah Pendekatan Tematik, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2012, hlm. 67 Dalam teori tersebut ada 4 teori kebenaran yaitu teori Korespondensi, Teori Koherensi, Teori Pragmatisme, dan Teori Kebenaran Illahiah atau agama. Slamet Ibrahim, Materi Pengetahuan Dasar Tentang Filsafat Ilmu dan Pengetahuan, ITB, Bandung, 2008 Ahmad Tafsir, Filasafat Ilmu, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009, hlm. 17 6 perlu dibenahi, juga model logika pembuktian kebenarannya. Model logika yang dikembangkan di dunia Islam adalah logika formal Aristoteles dengan mengganti pembuktian kebenaran formal dengan pembuktian materil atau substansial, dan pembuktian kategorik dengan pembuktian ialah sesuatu yang sahnya atau berlakunya mengatas dari pendapat, pandangan, perasaan, atau kemauan seseorang, mengatas dari psikologi subjektif, dan tak bergantung kepadanya. Jika yang dianggap benar hanya berdasarkan keadaan psikologi-subjektif seseorang, yakni yang berguna bagi kepentinganya sendiri, maka jelas kebenaran itu menjadi tak ada. Karena itu tidak mungkin orang menetapkan sesuka hatinya, apa kebenaran samasekali tak berdaya menghadapi kebenaran dalam hati, kita mungkin yakin bahwa kita dapat saja menolak atau menyangkalnya, akan tetapi kita tidak dapat mengubahnya. Kalau kebenaran tersebut dalam hati kita terima, tetapi menyusakan atau tak sedap dirasakan, maka direka-rekalah suatu kebenaran yang lebih berguna demi tercapainya hasrat dan tujuan kita. Akan tetapi kita telah berlaku tak adil terhadap diri sendiri, sehingga perbuatan seperti itu mempunyai kecenderungan merongrong atau melemahkan jiwa secara diam-diam tanpa kita Al-Qur’an Surat Al-Mu’minun ayat 71 2371 dijelaskan yang artinya “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya kami Telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan Al Quran mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. Manusia membawa sejak lahir innate kata hati suara hati yang bersifat imperatif. Suara hati itu ialah suara yang selalu mengajak menjadi orang yang baik. Puncak kebaikan itu adalah Tuhan. Kembali pada teori Kebenaran Agama, bahwa guna memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai agama diperlukan model atau metode pemahaman yang tepat, jangan sampai pemahaman kebenaran tersebut menjadi terbalik. Sebagaimana integrasi ilmu dan nilai, menurut Ziauddin Sardar, yakni agar manusia dapat lebih arif dan bijak kepada alam, maka ilmu harus berpijak pada nilai yang berupa prinsip tauhid, prinsip khilafah dan amanat, dan prinsip integralistik yang dimaksud adalah model keilmuan yang disamping memiliki nilai dan ruh keislaman juga sekaligus relevan dengan kebutuhan umat Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, Rake Sarasin, Yogyakarta, 2001 Soedewo Islam dan Ilmu Pengetahuan, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta, 2007, Hlm. 1-2 Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Tahles Sampai Capra Pengantar kepada Filsafat untuk Mahasiswa Perguruan Tinggi, Rosda Karya, Bandung, 2000, hlm. 249. Absori, Materi Kuliah Filsafat Ilmu, Program Doktor Ilmu Hukum Univeritas Muhammadiyah Suarakarta, 2016 7 Islam dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang semakin teori tumbuh dan berkembang apa yang disebut dengan nilai-nilai sosial, yang dikonsepsikan sebagai nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat. sebagai contoh, orang menganggap menolong memiliki nilai baik, sedang mencuri bernilai buruk. Nilai juga bisa diartikan sebagai pola keyakinan yang terdapat dalam sistem keyakinan suatu masyarakat tentang hal yang baik yang harus dilakukan dan hal buruk yang harus melihat pada terminologi aksiologi, maka akan ditemukan frasa axios yang menurut bahasa Yunani berarti nilai dan logos berarti teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Sebagaimana Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya, aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika. Dalam definisi yang hampir serupa bahwa aksiologi ilmu pengetahuan membahas nilai-nilai yang memberi batas-batas bagi pengembangan definisi tersebut, sebenarnya dapat dilihat bahwa melalui aksiologi dalam filsafat terlihat jelas bahwa manusia harus mepertimbangkan-mempertimbangkan menilai mengenai perbuatannya, atau dengan konsep lain nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai atau apa yang dikaji. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika. Etika menilai perbuatan manusia, maka lebih tepat kalau dikatakan bahwa objek formal etika adalah norma-norma kesusilaan manusia, dan dapat dikatakan pula bahwa etika mempelajari tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik di dalam suatu kondisi yang normative, yaitu suatu kondisi yang melibatkan norma-norma. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya. Dalam konsep penulis, nilai ini bisa berada pada posisi sebelum berfikir, dalam arti sebagai pijakan berfikir, juga bisa berada pada posisi setelah hasil berfikir, dalam arti hasil berfikir tersebut akan digunakan dalam fungsi apa. M. Zainal Abidin, Filsafat Ilmu-Ilmu Keislaman Integralistik Studi Pemikiran Kuntowijoyo, Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin Vol. 13, No. 2, Juli 2014, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, IAIN Antasari Banjarmasin, hlm. 120 Nurul Zuriah, Pendidikan Moral Dan Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan, Jakarta, PT Bumi Aksara, 2008, Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan. 2003. Hlm. 234 Kamus Besar Bahasa Indonesia Ihsan Fuad, Filsafat Ilmu, Jakarta, Rineka Cipta, 2010, Hlm. 231 8 Pada posisi sebelum berfikir, maka nilai akan di konsepkan sebagai pangkal metode yang harus digunakan agar tujuan dalam berfilsafat itu benar. Hal ini sesuai dengan patokan pada kebenaran agama. Konsep tersebut seperti bangunan ilmu integralistik Kuntowijoyo, yang berangkat dari paradigma Islam sebagai pijakan, melalui proses yang disebut pengilmuan Islam. Pengilmuan Islam bertitik tolak dari Islam itu sendiri, yakni al-Qur’an sebagai basis pengembangan teori ilmu. Gagasan ini oleh Kuntowijoyo dipandang sebagai antitesis dari Islamisasi ilmu, sebuah proyek intelektual dari Barat ke dunia Islam, sedangkan pengilmuan Islam merupakan proyek intelektual dari dalam Islam ke dunia menegaskan bahwa sejatinya kebenaran itu apa yang datang dari Tuhan. Dengan bahasa lain, yakni teks wahyu Al-Qur’an yang disampaikan oleh Tuhan kepada baginda Nabi saw. Teori kebenaran menurut Kunto merupakan bagian dari akidah, karena ia termasuk hal-hal yang primer. Peradaban tauhid theocentric civilization bersandar pada ketentuan-ketentuan Tuhan untuk yang primer, selebihnya ada kebebasan penuh bagi kreativitas manusia untuk hal-hal yang sifatnya sekunder seperti urusan teknis, strukturasi politik, dan masalah ranah kebenaran agama, nilai dipersepsikan sebagai prinsip yang sifatnya spiritual. Sebagai makhluk pencari kebenaran, manusia dapat mencari dan menemukan kebenaran melalui agama. Bukan hanya terkotakkan pada bagian yang dikaji, yaitu agama tertentu, namun akan muncul kebenaran yang bisa bersifat universal. Prinsip-prinsip dalam kebenaran agama harus dianggap mutlak, sebagaimana kalimat pada paragraf sebelumnya yang menyatakan bahwa, Islam berangkat dari eksistensi kebenaran bersumber dari Allah SWT. Wahyu merupakan eksistensi kebenaran yang mutlak benar. Eksisitensi wahyu merupakan kebenaran mutlak. Maka tidak ada keraguan padanya. Mengkatualisasikan pendekatan spiritual ini, dapat diaplikasikan atau diimplementasikan dengan mencari-cari nilai-nilai yang tercermin dan telah dituliskan dalam kitab suci Al-Qur’an. Kebeneran mutlak menurut Popper berada pada dunia objektif; sedangkan menurut Noeng Muhadjir, kebenaran mutlak adalah milik Allah SWT. Dalam konteks berfikir Popper tugas kita berilmu pengetahuan adalah berupaya mendekati kebenaran mutlak yang berada pada dunia objektif diberangkatkan dari teori besar yang diasumsikan menyatakan dunia objektif yang teratur dan diuji dengan logika deduktif probailistik serta teknik uji lewat uji falsifikasi. Dalam konteks berfikir transendensi tersebut, Noeng Muhadjir berupaya mendekati kebenaran mutlak dengan metoda tematik atau tafsir maudhui, yaitu Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu Epistemologi, Metodologi, & Etika,Teraju, Jakarta, 2005. 9 dengan cara menghimpun nashdari Qur’an dan Hadits yang relevan dengan teori yang hendak upaya mengimplemantasikan pengilmuan Islam, Kuntowijoyo menawarkan dua langkah yang harus diambil, yakni integralisasi dan objektifikasi. Integralisasi adalah pengintegrasian kekayaan keilmuan manusia dengan wahyu petunjuk Allah dalam Al-Qur’an beserta pelaksanaannya dalam sunnah Nabi. Sementara, objektifikasi adalah menjadikan pengilmuan Islam sebagai rahmat untuk semua orang rahmatan lil’âlamîn.Kita harus menyakini bahwa dalam agama terdapat ilmu, begitu juga dalam berilmu sangat diperlukan agama. Hal ini sebagaimana pandangan Fazlur Rahman, bahwa dari sudut pandang Islam, ilmu sudah terkandung secara esensi dalam Al-Qur’an. Beragama berarti berilmu, dan berilmu berarti beragama. Karena itu tidak ada dikotomi antara agama dan sebagai kebenaran transendental memberikan ayat bukti, isyarah, hudan pedoman, dan/atau rahmah kepada hidup keseharian, manusia dalam berhubungan dengan alam, sesama manusia, dan dalam hubungan dengan Allah. Ilmu tanpa bimbingan wahyu hanya akan menyebabkan kerusakan yang dasyat. Oleh karena itu, ilmu dan Islam tidak bisa terlepas dari Sardar menguraikan, bahwa istilah yang paling tepat dalam mendefinisikan pengetahuan knowledge, menurut Islam, adalah al-ilm, yang memiliki dua komponen. Pertama, bahwa sumber asli seluruh pengetahuan adalah wahyu atau Al-Qur’an di sinilah terletak kebenaran absolut. Kedua, bahwa metode mempelajari pengetahuan yang sistematis dan koheren semuanya sama-sama valid; semuanya menghasilkan bagian dari satu kebenaran dan realitas, bagian yang sangat bermanfaat untuk memecahkan masalah yang sedang dalam kebenaran layaknya wahyu dalam ilmu, dalam berfikir diperlukan garis penuntun. Objek ilmu dalam epistimologi Islam tidak semata-mata realitas fisik, namun juga mengakui status ontologis dari hal-hal metafisik sebagi hal yang mungkin diketahui oleh manusia. Sumber-sumber ilmu dalam epistimologi Islam terdiri dari 1 wahyu, berupa Al-Qur’an dan Hadits Dalam Bukunya, Noeng Muhadjir menjelaskan bahwa paradigma tata fikir menata nash dengan pendekatan realisme metaphisik setidaknya dapat dipilih dengan dua model logika, yaitu logika dedukti probabilistik atau logika reflektif probabilistik. Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif Pendekatan Positivistik, Rasionalistik, Phenomenologik, dan Realisme Metaphisik Telaah Studi Teks dan Penelitian Agama Edisi III, Rake Sarasin, Yogyakarta, 1996, M. Zainal Abidin, hlm. 126 Fazlur Rahman, Islam and Modernity, The University Chicago Press, Chicago, Hlm. 208. Dalam Zaprulkhan, Filsafat Ilmu Sebuah Pendekatan Tematik, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2012, hlm. 87 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Dinar Dewi Kania, Objek Ilmu dan Sumber-Sumber Ilmu dalam Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam,Gema Insani, Jakarta, 2013. Hlm. 91 Baca Ziauddin Sardar – Dimensi Ilmiah al-ilm dalam Agung Prihantoro dan Fuad Arif F., 2000, Merombak Pola Pikir Intelektual Muslim Judul Asli Ziauddin Sardar Ed, Ilm and the Revival of Knowledge, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Hlm. 25 10 Rasulullah saw., 2 akal dan kalbu, dan 3 indera. Sedangkan memperoleh ilmu dalam Islam terkait erat dengan peran jiwa manusia dan diperoleh melalui beberapa sumber, yaitu persepsi indra, akal sehat ta’aqqul, dan intuisi serta berita yang benar khabar sadiq. Dalam epsitimologi Islam, wahyu Allah SWT., yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber ilmu tertinggi sehingga nilai ilmiah scientific value dari wahyu harus diletakkan pada tempat yang mestinya dan tidak boleh diceraikan dari sains atau Kesimpulan Dapat disimpulkan bahwa nilai agama merupakan keharusan, dapat berupa suatu ide yang memberikan pedoman atau ukuran bagi manusia dalam hubungannya dengan Allah SWT, sesama manusia dan alam semesta. Dalam berfikir diperlukan metode serta pijakan yang benar, karena hakikat sebuah ilmu adalah mencari kebenaran. Jika pijakannya salah maka kebenaran tersebut hanya akan bersifat subjektif tidak objektif. Dalam hal ini agama dipersepsikan sebagai nilai penuntun dalam berfikir menuju kebenaran. Baik itu dengan metode integralistik, maupun dengan metode-metode lainnya. 11 DAFTAR PUSTAKA Abdul Munir Mulkan, 1993, Paradigma Intelektual Muslim, Yogyakarta, Sipress. Agung Prihantoro dan Fuad Arif F., 2000, Merombak Pola Pikir Intelektual Muslim Judul Asli Ziauddin Sardar Ed, Ilm and the Revival of Knowledge, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Ahmad Tafsir, 2000, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Tahles Sampai Capra Pengantar kepada Filsafat untuk Mahasiswa Perguruan Tinggi, Remaja Rosda Karya, Bandung. Ahmad Tafsir, 2009, Filasafat Ilmu, Remaja Rosdakarya, Bandung. Ali Audah, 1997, Konkordansi Quran, Mizan, Bandung. Dinar Dewi Kania, 2013, Objek Ilmu dan Sumber-Sumber Ilmu dalam Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam, Gema Insani, Jakarta. Ihsan Fuad, 2010, Filsafat Ilmu, Jakarta, Rineka Cipta. Jujun S. Suriasumantri, 2003, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Kaelan, 1987, Pancasila Yuridis Kenegaraan, Liberty, Yogyakarta. Kuntowijoyo, 2005, Islam Sebagai Ilmu Epistemologi, Metodologi, & Etika, Teraju, Jakarta. M. Zainal Abidin, 2014, Filsafat Ilmu-Ilmu Keislaman Integralistik Studi Pemikiran Kuntowijoyo, Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin Vol. 13, No. 2, Juli 2014, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, IAIN Antasari Banjarmasin. Noeng Muhadjir, 2001, Filsafat Ilmu, Rake Sarasin, Yogyakarta. Noeng Muhadjir, 1996, MetodologiPenelitian Kualitatif Pendekatan Positivistik, Rasionalistik, Phenomenologik, dan Realisme Metaphisik Telaah Studi Teks dan Penelitian Agama Edisi III, Rake Sarasin, Yogyakarta. Nurul Zuriah, 2008, Pendidikan Moral Dan Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan, Jakarta, PT Bumi Aksara. Slamet Ibrahim, 2008, Materi Pengetahuan Dasar Tentang Filsafat Ilmu dan Pengetahuan, ITB, Bandung. 12 Slamet Ibrahim, tt, Pengetahuan Dasar Tentang Filsafat Ilmu dan Pengetahuan, Institut Teknik Bandung, Bandung. Soedewo 2007, Islam dan Ilmu Pengetahuan, Darul Kutubil Islamiyah, Jakarta. Zaprulkhan, 2012, Filsafat Ilmu Sebuah Pendekatan Tematik, Raja Grafindo Persada, Jakarta. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this MuhadjirMetodologi Penelitian KualitatifNoeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif Pendekatan Positivistik, Rasionalistik, Phenomenologik, dan Realisme Metaphisik Telaah Studi Teks dan Penelitian Agama Edisi III, Rake Sarasin, Yogyakarta, 1996, Pendekatan Tematik, Raja Grafindo PersadaDalam ZaprulkhanFilsafat IlmuDalam Zaprulkhan, Filsafat Ilmu Sebuah Pendekatan Tematik, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2012, hlm. 87 30 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Dinar DewiDinar Dewi Kania, Objek Ilmu dan Sumber-Sumber Ilmu dalam Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam,Gema Insani, Jakarta, 2013. Hlm. 91Abdul Munir MulkanAbdul Munir Mulkan, 1993, Paradigma Intelektual Muslim, Yogyakarta, and the Revival of Knowledge, Pustaka PelajarAgung Prihantoro Dan Fuad ArifAgung Prihantoro dan Fuad Arif F., 2000, Merombak Pola Pikir Intelektual Muslim Judul Asli Ziauddin Sardar Ed, Ilm and the Revival of Knowledge, Pustaka Pelajar, Umum Akal dan Hati Sejak Tahles Sampai Capra Pengantar kepada Filsafat untuk Mahasiswa Perguruan TinggiAhmad TafsirAhmad Tafsir, 2000, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Tahles Sampai Capra Pengantar kepada Filsafat untuk Mahasiswa Perguruan Tinggi, Remaja Rosda Karya, FuadIhsan Fuad, 2010, Filsafat Ilmu, Jakarta, Rineka 1987, Pancasila Yuridis Kenegaraan, Liberty, AbidinM. Zainal Abidin, 2014, Filsafat Ilmu-Ilmu Keislaman Integralistik Studi Pemikiran Kuntowijoyo, Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin Vol. 13, No. 2, Juli 2014, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, IAIN Antasari Moral Dan Budi Pekerti Dalam Perspektif PerubahanNurul Zuriah, 2008, Pendidikan Moral Dan Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan, Jakarta, PT Bumi Aksara. By at 5/15/2016 Pernahkah ada yang membaca kalimat seperti judul diatas atau sejenisnya? Ya seperti “Kebenaran hanya milik Tuhan, manusia tidak tahu kebenaran”, “hanya Tuhan yang boleh menghakimi, manusia tidak boleh menghakimi”, “benar tidaknya hanya Allah yang tahu, kita tidak boleh menilai orang salah atau benar”, dst. Sepintas mungkin terlihat benar, sepintas mungkin memang terlihat indah, sepintas tidak ada masalah pada kalimat-kalimat tersebut. Tapi jika diperhatikan lebih lanjut, ada masalah dalam kalimat-kalimat tersebut. Memang, hanya Allah lah Yang Maha tahu segalanya, kebenaran hakiki hanyalah milik Allah semata. Namun, jika memang kebenaran itu hanya Allah yang tahu, lalu bagaimana kita bisa hidup dalam kebenaran? Sedangkan Rasulullah mengajarkan kita untuk hidup dalam kebenaran, dalam kebaikan, dalam nilai-nilai Ilahi. Ya, itu memang ucapan-ucapan yang sering digembar-gemborkan oleh orang-orang yang memiliki agenda merusak pola pikir umat Islam, atau mungkin orang-orang yang menjadi korban mereka. Di tangan mereka, di ucapan mereka, kebenaran menjadi relatif, kebenaran menjadi tergantung siapa yang mendefinisikan kebenaran tersebut, termasuk kebenaran dalam hal agama Islam ini. Liberal sekali! Orang-orang jadi ragu untuk menyatakan mana yang salah dan mana yang benar. Orang-orang jadi ragu untuk mencegah kemungkaran dan malas untuk mengajak kepada kebaikan, karena semuanya relatif, karena hanya Tuhanlah yang tahu apa itu kebenaran. Begitukah ? Seperti yang sudah sebutkan tadi, jika memang kebenaran hanya robb yang tahu, jika memang manusia sama sekali tidak boleh menghakimi lalu bagaimana kita harus menilai mana yang salah dan benar? Lalu apa gunanya hukum-hukum yang ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah? Jadi, apakah kebenaran itu? reshare from asyraf Baca Juga Info Penting langganan artikel menerima tulisan, informasi dan berita untuk di posting menerima kritik dan saran, WhatsApp ke +62 0895-0283-8327 Dan Kami tidak menciptakan langit dan Bumi serta apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan kebenaran. Dan sungguh, kiamat pasti akan datang, maka maafkanlah mereka dengan cara yang baik. [ Al-Hijr 1585] Allah adalah pencipta segala sesuatu. Dia menciptakan segala sesuatu menurut ukuran-Nya dan ciptaan-Nya tersebut pasti membawa kebenaran, kebaikan dan bermanfaat bagi semua makhluk hidup yang hidup dan tinggal di muka bumi ini. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dengan membawa kebenaran. Dan kita pun meyakini dan bersaksi bahwa Al-Qur’an itu memang datangnya dari Allah dengan jelas, yaitu menjelaskan tentang yang benar haq dan salah batil. QS. An-Nisa’ 4 170 Wahai manusia! Sungguh, telah datang Rasul Muhammad kepadamu dengan membawa kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kepadanya, itu lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, itu tidak merugikan Allah sedikit pun karena sesungguhnya milik Allah-lah apa yang di langit dan di bumi. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. Matahari, bulan dan bintang-bintang yang kita saksikan atau syahadatkan sehari-hari adalah benda-benda yang ada di langit. Mereka dapat kita lihat menurut sudut pandang dimana orang tersebut berada dan dibatasi ruang dan waktu saat melihatnya. Sesuai judul di atas, bahwasannya kebenaran hanyalah milik Allah semata dan kita menyaksikan kebenaran yang DIA hamparkan, hanya menurut sudut pandang manusia saja yang sangat-sangat terbatas. Kita butuh sudut pandang orang lain dalam memahami kebenaran. Tonton Juga Videoklip Ini Apakah yang kita saksikan saat ini terhadap matahari, bulan dan bintang adalah kebenaran yang sama dengan orang lain di waktu yang sama dan lokasi yang berbeda? Matahari dapat kita lihat jelas saat terbit dan terbenam saja. Pada saat siang hari saat matahari berada tepat di atas kepala kita, ia tidak dapat kita lihat secara langsung dengan mata telanjang karena dapat membutakan, tetapi kita membutuhkan media lain seperti air jika ingin melihat matahari di siang hari. Jika kondisi matahari terbenam di ufuk barat dan hari berganti menjadi malam di belahan bumi Indonesia, apakah matahari bisa kita lihat saat itu? Tentu saja kita tidak bisa melihatnya. Lalu siapakah yang dapat melihat matahari pada malam hari? Coba anda hubungi teman anda yang berada di Amerika melalui video call dimana perbedaan waktu dengan Indonesia selama 12 jam. Waktu di Amerika saat itu menunjukkan jam 6 pagi, lalu minta teman anda mengarahkan smartphone-nya ke arah timur saat matahari terbit, tentu saat itu kita bisa menyaksikan matahari secara real time online. Ya, kita butuh berkolaborasi dengan orang lain dalam memahami kebenaran. Belum tentu yang kita anggap benar saat ini di waktu yang bersamaan merupakan kebenaran yang sama bagi orang lain yang berbeda lokasi saat melihat matahari. Tetapi kebenaran tentang matahari adalah dapat dilihat saat ia terbit sampai dengan terbenam saja dengan rentang waktu dari jam 6 pagi sampai jam 6 petang. Itulah yang dinamakan kebenaran. Baca Juga Tulisan Ini 360 Derajat Jika malam hari tentu saja bukan merupakan kebenaran jika anda katakan dapat melihat matahari saat itu. Tetapi anda bisa menyaksikan kebenaran lainnya yang Dia ciptakan dan beredar mengelilingi bumi, yaitu bulan. Ya, bulan secara langsung hanya memantulkan sinar matahari saat kita memandang penampakkannya dari fase-fase atau wajah-wajah bulan dalam sebulan. Selain bulan, pada malam hari pun kita dapat melihat kebenaran yang Dia perlihatkan kepada para pengamat yang bernama manusia dari muka bumi yaitu milyaran bintang-bintang yang berkelap-kelip di angkasa yang luas. Bintang-bintang juga dinamakan sebagai matahari karena punya sumber energi seperti matahari di tata surya kita. Disebut sebagai bintang karena bintang-bintang tersebut berada di luar tata surya kita dengan jumlah yang sangat banyak. Adakah bintang-bintang dapat kita saksikan pada siang hari? Ya ada, tetapi tidak terlihat. Lalu kenapa bintang-bintang tidak dapat terlihat pada siang hari? Ya, karena terhalang oleh sinar matahari yang intensitas cahayanya sangat kuat dan menyilaukan mata. Itulah yang dinamakan kebenaran tentang bintang-bintang dimanapun manusia berada, asalkan dilihatnya pada malam hari. Tonton Juga Videoklip Ini Jangan sampai kita hanya mengikuti ego berupa dugaan menurut sudut pandang kita yang sempit dan sangat terbatas serta tidak memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya secara menyeluruh holistik. Dugaan yang batil tersebut tidak dapat mengalahkan kebenaran yang haq dari-Nya. QS. Yunus 10 36 Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikit pun berguna untuk melawan kebenaran. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. QS. Al-Anbiya 21 18 Sebenarnya Kami melemparkan yang hak kebenaran kepada yang batil tidak benar lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu yang batil lenyap. Dan celaka kamu karena kamu menyifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar haq dan yang salah batil. Dan tidak ada yang dapat memahami perumpamaan tersebut kecuali bagi orang-orang yang mau memikirkan dan mengambil pelajaran. QS. Ar-Ra’d 13 19 Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, Baca Juga Tulisan Ini Hidup adalah Proses Belajar dan Mengajar Hingga Akhir Hayat Semoga bermanfat. Wallahu a’lam bishshawab. Salam hangat, Hendro Noor Herbanto Penulis buku “Arti Kehidupan” Komposer Pencipta Lagu Penyanyi Kreator Konten Digital Marketeer Untuk pemesanan buku “Arti Kehidupan”, sila hubungi 08128111963 atau klik link WhatsApp berikut ArtiKehidupan benar salah allah renungan hikmah manfaat motivasi hidup mati proses belajar baca buku book love life movie music piano puasa ramadhan Tonton Juga Videoklip Ini bagaimana yang akan dilakukan seseorang jika ia tahu bahwa kesempurnaan hakiki hanya milik allah1. bagaimana yang akan dilakukan seseorang jika ia tahu bahwa kesempurnaan hakiki hanya milik allah2. ilmu untuk mempercayai kebenaran hakiki dari allah disebut​3. hak dasar paling hakiki yang dimiliki manusia adalah​4. apakah yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah dan apa perbedaannya dengan kebenaran hakiki5. Hak yang paling hakiki dan dimilikimanusia sejak lahir disebut ....​6. hak asasi paling hakiki yang dimiliki oleh manusia adalah7. Jelaskan siapakah yang di maksud dengan manusia hakiki yang akan kembali menghadap allah8. Apakah yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah dan apa perbedaannya dengan kebenaran hakiki?9. ukuran kebenaran hakiki adalah sesuai dengan10. Jelaskan siapakah yang di maksud dengan manusia hakiki yang akan kembali menghadap allah11. hak dasar paling hakiki yang dimiliki manusia adalah12. hak dasar paling hakiki yang di miliki manusia13. apakah yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah dan apa perbedaannya dengan kebenaran hakiki ?14. bantu ntr saya follow25 tugasnyamakna kalimat zikir tsb adalah... a. allah maha besar atas segala ciptaan nyab. kesucian yg hakiki hanya milik allahc. tiada yg patut disembah melainkan allahd. segala pujian hanya milik allah​15. benarkah akal manusia secara independen dapat menemukan kebenaran yang hakiki???16. Mengapa iman kepada rasul-rasul allah menjadi kewajiban hakiki bagi setiap muslim17. pengadilan allah yang hakiki di alam akhirat disebut 18. mengenal Allah melalui asma Allah bahwa Allah sajalah wujud Hakiki dan pelaku mutlak dalam ajaran tarekat suhrawardi disebut​19. apakah yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah dan apa perbedaannya dengan kebenaran hakiki ?20. hak yang paling hakiki dam dimiliki manusia sejak lahir disebut ....​ 1. bagaimana yang akan dilakukan seseorang jika ia tahu bahwa kesempurnaan hakiki hanya milik allah Caranya ia harus mensyukuri segala sesuatu apa yang telah diberikan oleh allah 2. ilmu untuk mempercayai kebenaran hakiki dari allah disebut​Jawabanilmu tauhid, ilmu agama. Maaf kalau salahPenjelasan 3. hak dasar paling hakiki yang dimiliki manusia adalah​JawabanHak dasar manusia yg paling hakiki adalah hak untuk hidup,memeluk agama. Hak dasarhak asasi manusia yg dimiliki manusia sejak lahir adalah hak untuk hidup manusia dapat melakukan kewajiban dan mendapatkan hak-haknya. 4. apakah yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah dan apa perbedaannya dengan kebenaran hakiki kebenaran ilmiah itu adalah kebenaran yang ditemukan melalui budidaya manusia, dalam kata lain kebenaran tersbeut diperoleh melalui berbagai uji coba dan penelitian. sedangkan kebenaran hakiki adalah kebenaran yang di akui, kebenaran yang tampak, kebenaran yang sebelumnya yang tanpa melalui uji coba atau penelitian kita udah mengetahuinya. 5. Hak yang paling hakiki dan dimilikimanusia sejak lahir disebut ....​Jawabanhak asasi manusiaPenjelasanHak Asasi Manusia HAM adalah hak dasar yang dimiliki oleh manusia sejak lahir. HAM berlaku kapan pun, di mana pun dan kepada siapa pun. HAM tidak dapat diganggu gugat dan tidak bisa dicabut karena merupakan anugrah yang dimiliki setiap manusia. 6. hak asasi paling hakiki yang dimiliki oleh manusia adalah Hak hidup, hak kebebasan, hak memiliki sesuatu 7. Jelaskan siapakah yang di maksud dengan manusia hakiki yang akan kembali menghadap allah manusia yang menyembah Allah dengan sebaik-baiknya penyembahan 8. Apakah yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah dan apa perbedaannya dengan kebenaran hakiki? Kebenaran Ilmiah adalah Kebenaran yang ditemukan melalui budi daya manusia. Melalui berbagai uji coba dan penelitian sehingga akhirnya membentuk satu sikap, bahwa kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang hakiki sedangkan Kebenaran Hakiki adalah kebenaran yang diakui oleh siapapun, inilah kebenaran yang sebenarnya. Akan tetapi, kebenaran ini belum pernah tersentuh, belum pernah terjamah dan belum pernah dimengerti juga belum pernah dibuktikan. Kebenaran dengan segala misteri yang ada didalamnya, menyatu dengan hati nurani. 9. ukuran kebenaran hakiki adalah sesuai denganUkuran kebenaran hakiki adalah sesuai dengan HUKUM ALLAH SWT. Dalam islam, kita meyakini bahwa kebenaran hakiki hanyalah bersumber dari Allah SWT saja, dengan demikian maka ukuran-ukurannya yang paling mudah dimengerti adalah sesuai dengan apa-apa yang disebutkan di dalam Al-Quran yang berisi kalam Allah SWT.» PembahasanAllah SWT sendiri di dalam Al-Quran sering disebut dengan AL-HAQ yang artinya adalah Maha Benar. Maha Benar artinya bahwa Allah SWT adalah sumber kebenaran yang hakiki, kebenaran yang sempurna dan tidak ada cacat di dalamnya walau sedikit kebenaran Allah SWT yang hakiki ini disebutkan dalam banyak surah di dalam Al-Quran yang salah satunya adalah SURAH YUNUS AYAT 32 yang bunyinya adalah sebagai berikutفَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ“Maka Dzat yang demikian itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya. Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan dari kebenaran?”» Pelajari Lebih Lanjut Materi tentang kebenaran hakiki tentang kebenaran ilmiah • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •» Detil JawabanKode 1 SMPMapel Pendidikan Agama IslamBab Iman Kepada Allah SWTKata Kunci Kebenaran, Benar, Hakiki, Al-Haq 10. Jelaskan siapakah yang di maksud dengan manusia hakiki yang akan kembali menghadap allahYang dimaksud dengan manusia hakiki yang akan kembali menghadap Allah SWT adalah manusia yang pada hakekatnya adalah ciptaan Allah SWT, kembali tanpa membawa apapun dari dunia sama seperti ketika ia terlahir dengan tidak membawa apapun ke dunia.» PembahasanManusia adalah makhluk Allah SWT yang terbuat dari tanah juga air. Manusia, sama seperti makhluk Allah lainnya, adalah fana. Bahwa manusia sudah pasti akan mati, sebab di dunia ini hanya Allah SWT saja yang abadi dan kekal. Matinya manusia ini adalah jalan kembali kepada Allah yang hakiki adalah manusia yang tak akan membawa apapun di dunia kecuali amalan shaleh yang telah ia perbuat. Manusia dan kedudukan serta hartanya di dunia tak akan pernah bisa menolongnya di hari pembalasan kelak. Namun amal shaleh setia menyertai langkahnya dan menjadi syafaat bagi dirinya di hari penghakiman.» Pelajari Lebih Lanjut Materi tentang sifat hakiki manusia tentang manusia kembali kepada Allah SWT • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •» Detil JawabanKode 1 SMPMapel Pendidikan Agama IslamBab Beriman Kepada Allah SWTKata Kunci Hakiki, Manusia, Kembali, Mati, Fana 11. hak dasar paling hakiki yang dimiliki manusia adalah HAMHak Asasi Manusiahak asasi manusiayg harus dilindungi dan diperjuangkan 12. hak dasar paling hakiki yang di miliki manusia Hak Azasi Manusia............hak untuuk hiduuuuuup 13. apakah yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah dan apa perbedaannya dengan kebenaran hakiki ? kelas SMApelajaran Biologikatagori optikata kunci kebenaransaya bantu menjawab ya dekperbedaannya adalahkebenaran ilmiah adalah kebenaran yang diperoleh dengan menggunakan bukti dan uji teori yang merupakan usaha manusiakebenaran hakiki adalah kebenaran yang diyakini itu adalah benar, baik dengan maupun tanpa uji teoridemikian jawabannya. semoga membantu ya dekselamat belajar. 14. bantu ntr saya follow25 tugasnyamakna kalimat zikir tsb adalah... a. allah maha besar atas segala ciptaan nyab. kesucian yg hakiki hanya milik allahc. tiada yg patut disembah melainkan allahd. segala pujian hanya milik allah​Jawabanc. kesucian yang hakiki hanya milik allahPenjelasan semoga membantu jangan lupa follow dan jadikan jawaban tercerdas ya ❤ 15. benarkah akal manusia secara independen dapat menemukan kebenaran yang hakiki??? tidak atau ya mohon maaf kalau salahIya bener Semoga bermanfaat yaMaaf kalau salah 16. Mengapa iman kepada rasul-rasul allah menjadi kewajiban hakiki bagi setiap muslimJawabanMengimani rasul-rasul Allah Swt. merupakan kewajiban hakiki bagi seorang muslim karena merupakan bagian dari rukun iman yang tidak dapat perwujudan iman tersebut, kita wajib menerima ajaran yang dibawa rasul-rasul Allah Swt. 17. pengadilan allah yang hakiki di alam akhirat disebut Bismillah Adalah HISABHisab. Semua amal baik dan buruk akan dihitung, lalu ditimbang di Mizan timbangan. 18. mengenal Allah melalui asma Allah bahwa Allah sajalah wujud Hakiki dan pelaku mutlak dalam ajaran tarekat suhrawardi disebut​ Ma'rifah, yaitu mengenal Allah melalui sifat-sifat Allah dalam bentuk terinci dengan memahami bahwa Allah saja-lah Wujud Hakiki dan Pelaku Mutlak, seperti memahami wujud Allah melalui kejadian dan musibahJawabanMa'rifah, , ,Penjelasan mengenal Allah melalui sifat-sifat Allah dalam bentuk terinci dengan memahami bahwa Allah saja-lah Wujud Hakiki dan Pelaku Mutlak, seperti memahami wujud Allah melalui kejadian dan musibahMaafkalausalah... 19. apakah yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah dan apa perbedaannya dengan kebenaran hakiki ? menurut saya, kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang dibuktikan dengan serangkaian metode ilmiah. sedangkan kebenaran hakiki adalah kebenaran yang abadi dan emang sudah terbukti 20. hak yang paling hakiki dam dimiliki manusia sejak lahir disebut ....​Hak hakiki manusia sejak lahir hingga besaradalah hak untuk hidupJawabanHAM Hak Asasi ManusiaPenjelasan_Semoga membantu_

kebenaran hakiki hanya milik allah